Persepsi

Earth Cube dari www.free

Panca menghembuskan hasil isapan tembakau terakhirnya. Asapnya bentuk huruf O perlahan terbang menjauhi wajahnya, sebelum akhirnya hilang menghempas bibir gelas. Panca hendak menyambung satu batang yang baru, namun sejenak ia ragu-ragu. Lulusan PTN bonafide namun menganggur itu ingin sekali makan camilan. Sejak tadi matanya melirik kacang berbungkus plastik yang tinggal satu-satunya. Sayang baginya, ia punya uang hanya cukup untuk salah satu dari dua macam sajian warung Pak Dohir. Padahal nafsunya sedang menggelinjang di antara dua pelampiasan: sebungkus plastik kacang garing atau sebatang rokok pita kuning.

Satu menit pertarungan batin memenangkan sajian hisap sebagai persembahan hasrat Panca. Tak lama, terdengar kepala pemantik kayu berdesis. Satu lagi sebentuk huruf O berwujud asap membumbung. Kali ini ia bertahan hingga atap. Namun Panca masih melirik sebungkus plastik kacang garing itu. Ia berkedip, menghela napas, menariknya lagi dan memejamkan matanya. Ia membatin,

“Panca, bayangkan kamu sedang menggenggam seplastik kacang garing. Kamu bayangkan betapa nikmat dan gurih kacang garing itu. Setelah itu, coba ambil satu. Kupas kulit renyahnya di depan wajahmu. Rasakan tekstur dan renyahnya suara kulit kacang yang meletup. Cium betapa harumnya kacang itu, dan rasakan air liur membanjiri mulut. Panca, masukkan kacang garing itu ke mulutmu. Perlahan. Rasakan bibirmu tersentuh biji kacang yang berbentuk sempurna, dan ujung lidahmu mulai tertekan perlahan. Kulum kacang itu, hingga kamu rasakan segala rasanya. Asin tapi gurih. Lalu, gigit kacang garing itu sehingga pecah di antara geraham kananmu. Panca, kamu sudah memulai menikmati sebungkus plastik kacang garing…”

Mulut Panca bergerak-gerak layaknya sedang memamah. Abu ujung rokok pita kuningnya menumpuk tanpa ada asap terisap. Sebungkus plastik kacang garing itu pun tak jua terjamah tangannya.

Hingga setelah rokoknya tinggal sepertiga panjangnya, Panca membuka mata. Ia beranjak lalu berhitung dengan Pak Dohir.

“Kopi satu rokok dua.”

“Dua ribu lima ratus.”

“Lho, harusnya cuma dua ribu.”

“Kacangnya lima ratus.”

“Tapi saya tidak makan kacangnya.”

“Tapi saya lihatin dari tadi mulut sampeyan memamah layaknya makan kacang.”

Panca berkedip, menghela napas, menariknya lagi dan memejamkan matanya. Ia membatin lagi.

Iklan

Ditandai:, ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

POEMS AND SONGS FOR CHILDREN

poems poetry children song indonesia jakarta

Wahyu Kokkang

Love - Life - Laugh

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Satriwan's Blog

Yakin Usaha Sampai Demi Kemajuan

mifka weblog

Sekedar Catatan

obraytech's Blog / Computers

All About Computers,Gadget & Other

NETLABELS NOISES

selected netlabel releases

Walid Umar

Your Time Is Limited; Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama...

lombokdihati

DIBALIK KESUNYIAN PELANGAN

The Simple Blog

Berawal dari sesuatu yang tidak mungkin

The Lost Word

Menulislah Walau Hanya Satu Kalimat

ENGLISH LEARNING CENTRE

Sharing and Growing for Better Education

Catatan Arief Mardianto

Pengingat disaat lupa ...

Welcome to my blog

Berbagi itu menyenangkan.

ilmu manajemen

Membantu anda dalam memahami

A Dreamer

It's true that we don't know what we've got until we lose it, but it's also true that we don't know what we've been missing until it arrives.

YoUMovi

Watch and download full movies online

%d blogger menyukai ini: