Menjemput Sahabat

The night life of Bangalore captured from a ro...

Di gang sempit samping kafe Dream Land dua pemuda terkapar. Aji, pemuda pertama terlihat terlentang dengan nafas yang terengah-engah. Linggar, pemuda yang satunya mengamini Aji dengan sikap dan deru nafas lelah yang seirama.

“Hah, kau tambah gesit sekarang,” engah Linggar. Ia meringis menahan sakit di rusuk kirinya yang terkena sodokan Aji.

“Pulang,” ajak Aji mengabaikan pujian lawannya. Ia memegangi bahu kanannya yang kena sabetan tangan Linggar.

“Pulang saja sendiri,” Linggar menafikan ajakan Aji.

“Ayolah, untuk apa kamu masih ikut dia?”

Aji mengatur nafas, lalu melanjutkan, “Lihat tempat ini! Kota ini sudah merubahmu, Gar!”

Linggar tak menyahut. Hanya erangan yang sesekali terdengar. Perlahan ia bangkit dan duduk bersandar dinding belakang kafe. Aji ikut duduk bersandar di tembok seberang.

“Kamu akan bilang bahwa kota ini telah menggerogoti jiwaku sedikit demi sedikit kan? Sampai akhirnya aku tak mengenal diriku sendiri. Gitu? Huh! Cerita klise itu tak akan membuatku pulang ke kampung yang …”

“Karena kamu lebih ingin dikenal sebagai tukang pukul daripada orang gagal,” potong Aji.

“Aku tidak gagal! Orang yang tangguh harus bisa bertahan dari semua bentuk kerasnya hidup.  Dua tahun aku begitu naif sehingga yakin bisa membawa Kakang-ku kembali. Tapi justru dialah yang membukakan mataku pada dunia nyata. Tanpa harus risih dengan suara-suara sumbang, karena di sini semuanya terdiam jika namaku disebutkan!”

Aji berdiri, diikuti Linggar. Aji menarik nafas layaknya akan mengeluarkan jurus pamungkas. Matanya terpejam.

“Itulah yang membedakanmu dengan kakakmu. Apa kamu lupa, Jati kakang-mu dulu berseru di hadapan kita dan teman-teman bahwa ia bosan jadi petani kampung. Kamu tentu ingat isak tangis Yu Fathonah yang cintanya dimentahkannya hanya karena ia tak mau umurnya habis terikat di kampung mengurus keluarga dan sawah.”

Mata kanan Linggar yang tidak lebam menatap Aji. Bibirnya yang berpoles darah kering terkatup.

“Tapi kamu jauh lebih baik, Gar. Kamu ke sini untuk mengajaknya pulang setelah Pak Dalhar tahu kakang-mu jadi preman di kota. Kamu menginjak kota ini dengan niat baik.”

“Niat baik. Dua tahun telah membuatku lupa…”

“Karena itulah aku datang. Karena kamu kakak seperguruanku. Sahabatku.”

Belum sempat Linggar menjawab, Jati muncul dengan dua puluh lima anak buah di belakangnya.

Telunjuk Jati mengisyaratkan sesuatu kepada bawahannya.

“Lari!” seru Linggar kepada Aji.

Dengan susah payah keduanya lari menjauhi gerombolan itu. Aji sempat menatap Jati yang sengaja tinggal memandang keduanya. Aji pernah melihat tatapan seperti itu pada mata kucing hutan yang mengincar mangsanya. Bukan lagi tatapan seorang guru kepada murid-muridnya, yang Aji dulu sering menjumpainya.

Iklan

Ditandai:, , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

POEMS AND SONGS FOR CHILDREN

poems poetry children song indonesia jakarta

Wahyu Kokkang

Love - Life - Laugh

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Satriwan's Blog

Yakin Usaha Sampai Demi Kemajuan

mifka weblog

Sekedar Catatan

obraytech's Blog / Computers

All About Computers,Gadget & Other

NETLABELS NOISES

selected netlabel releases

Walid Umar

Your Time Is Limited; Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk sesama...

lombokdihati

DIBALIK KESUNYIAN PELANGAN

The Simple Blog

Berawal dari sesuatu yang tidak mungkin

The Lost Word

Menulislah Walau Hanya Satu Kalimat

ENGLISH LEARNING CENTRE

Sharing and Growing for Better Education

Catatan Arief Mardianto

Pengingat disaat lupa ...

Welcome to my blog

Berbagi itu menyenangkan.

ilmu manajemen

Membantu anda dalam memahami

A Dreamer

It's true that we don't know what we've got until we lose it, but it's also true that we don't know what we've been missing until it arrives.

YoUMovi

Watch and download full movies online

%d blogger menyukai ini: