Arsip Kategori: Kata Saya

Widget Kepribadian dari Situs My Personality

Click to view my Personality Profile page

Hasil tes kepribadian indraisme di situs termaksud

Lama tak ngeblog, lebih lama lagi tak posting artikel satupun (artikel-artikel terakhir berupa unggahan tulisan dari file lama yang belum terpostingkan atau mereblog artikel tetangga), saya memutuskan posting artikel tentang widget HTML untuk para pemilik akun wordpress gratisan seperti saya. Widget yang dimaksud adalah widget yang berisi info tipe diri dan inteligensia kita. Info tersebut berguna untuk mengetahui diri kita sendiri secara pribadi. Saya telah mengikuti dan mendapatkan hasil tesnya (lih. gambar) beberapa menit sebelum akhirnya artikel ini terbit.

Lho, apakah berarti saya termasuk orang yang tidak tahu diri? Mungkin, karena kadang saya rasakan itu pada saat-saat tertentu, misal saat ada prasmanan resepsi pernikahan, hehehe… 😀

Karena berisi info pribadi, maka kita perlu mengisi formulir semacam tes kuosioner. Dan karena yang mengadakan tes adalah sebuah situs internet, maka diperlukan sign up jika sebelumnya kita belum punya akun di situs itu. Dan apakah nama situs penyedia tes kepribadian dan inteligensia diri itu? Ehm, mungkin akan lebih praktis jika Pembaca Yang Budiman langsung klik link di bawah ini. Pun, masalah kode widgetnya, saya yakin Pembaca Budiman akan mudah untuk mendapatkannya di situs yang dimaksud. Yang penting ya itu tadi, menyelesaikan tesnya dulu, baru dapatkan kodenya. 🙂 :

Dapatkan badge kepribadian Anda!.

Selamat mencoba lebih mengenali diri Anda…

Sertifikat Kosong dan Lima Kisah

Wah, dari judulnya terdengar seperti cerpen ya? Memang, artikel ini tidak jauh-jauh dari cerita fiksi, cerita mini tepatnya. Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti lomba menulis cerita mini yang diselenggarakan  oleh Forum Sastra Bumi Pertiwi. Ganjarannya lumayan bagus, juara I dihadiahi uang sebanyak 1 juta plus piagam digital berformat jpeg. Juara II dan III masing-masing di-reward 500 ribu dan 300 ribu, juga plus piagam. Saya bersemangat untuk ikut, sehingga lima judul cerita telah saya kirim.

Namun kenyataan tak semanis asa. Ternyata belum ada satupun karya saya yang berhasil. Jangankan menjadi pemenang, dianggap cukup layak untuk masuk kategori cerita yang ter-antalogikan saja belum. Itu tak mengapa, karena dapat berpartisipasi dalam sebuah ajang sudah cukup membanggakan saya. Paling tidak, saya mendapatkan semacam ‘hadiah hiburan’. Apakah itu? Ini nih, Para Pembaca Budiman, hadiah hiburan saya.

Apakah ada yang ganjil? Hehe, iya… Sertifikatnya masih gundul, kosong, alias dalam bentuk template. Memang, bagi para pengirim yang akhirnya tidak lolos menjadi nominasi atau pemenang lomba, sertifikat yang diberikan adalah berupa sertifikat kosong.

Mari membahas karya-karya yang saya ikutsertakan. Supaya cermin-cermin saya tidak ‘menganggur’, maka saya berkeinginan untuk memposting semua cermin yang saya ikutkan lomba itu di sini. Kelima cermin saya berjudul: Hikayat Si Patung Sedada, Opak dari Bapak, Cerita Satu Malam, Menjemput Sahabat, dan Warung Pak Bakar. Cerita-cerita tersebut akan saya terbitkan satu-persatu, yang artinya tidak sekaligus. Mengapa demikian? Ya supaya Para Pembaca Budiman tidak ketinggalan untuk membacanya, dan supaya postingan saya tidak berlalu dan mengendap di arsip begitu saja. Maklum, blog saya kan masuk dalam blog sepi, hehehe… 🙂

Untuk yang pertama, saya akan memposting cermin berjudul Hikayat Si Patung Sedada. Selamat menikmati.

Afiiikaa…

Amanina Afika Ibrahim

Siapa Afika?

Akhir-akhir ini nama Afika sering dipanggil. Entah yang memanggil itu ketemu beneran sama si empunya nama atau tidak. Entah yang menyebut nama itu kenal dengan si Afika atau tidak. Yang pasti, saya sering mendengar nama sering diucapkan, kebanyakan oleh anak didik saya di Primagama, sebagai bahan bercengkrama dan bercanda dengan sesamanya. Lantas, siapakah si Afika itu? Apakah itu nama asli?

Afika, seperti yang kita tahu, adalah bintang cilik pariwara biskuit O*eo. Performa dan penampilannya yang imut dan menggemaskan disukai oleh banyak orang. Bagian iklan yang terkenal terutama pada dialog pertama. Ditunjukkan bahwa seorang anak perempuan yang lebih tua memanggil nama Afika dengan nada yang umum diucapkan oleh seorang anak kecil kepada teman atau saudaranya. Panggilan nama Afika itu lalu dijawab dengan kata “Iyaa…” yang sekali lagi…lucu dan menggemaskan.

Afika, walau mungkin orang mengenal namanya dari sebuah pariwara yang seringkali para bintangnya memakai nama peranan, adalah nama asli. Paling tidak, itu adalah nama panggilan asli. Nama lengkap Afika ialah Imanina Afiqah Ibrahim. Namun saya sarankan kepada Pembaca Budiman yang ingin mencaritahu seputar Afika di dunia maya untuk mengetik ‘Afika’ alih-alih ‘Afiqah’. Mengapa? Tentu saja karena nama ‘Afika’-lah yang lebih populer di dunia maya.

Iklan, Menjadi Ajang Eksploitasi Anak?

Seringkali sebuah iklan menggunakan anak kecil sebagai pelaku penyampai pesan. Adakah anak-anak itu menjadi obyek eksploitasi dalam prosesnya? Bisa iya, bisa tidak. Isu eksploitasi anak yang bekerja di dunia iklan atau hiburan pernah muncul, tapi saya rasa itu tidak berlaku bagi Afika.

Saya menonton sebuah segmen dengan Afika dan orangtua (ayah) Afika dalam acara Hitam Putihnya Corbuzier. Salah satu pertanyaan sang host acara adalah apakah orangtua Afika termasuk dalam orangtua yang mengeksploitasi anaknya untuk bekerja, sehingga orangtuanya dapat menikmati uang hasil jerih payahnya. Jawabannya ialah bahwa uang hasil bermainnya di beberapa iklan masuk ke rekening tabungannya. Bahwa itu dipakainya untuk biaya pendidikan Afika sendiri, ayah Afika menjelaskan pertanyaan Corbuzier. Ditambahkan lagi oleh ayah Afika, bahwa ia tidak menerima tawaran untuk Afika untuk bermain sinetron. Dasarnya adalah bermain di sebuah sinetron akan mengganggu jadwal sekolah Afika.

Namun bagi saya, alasan terpenting bahwa Afika bukanlah korban eksploitasi anak ialah, bahwa Afika sendiri tidak merasa dieksploitasi. Dia senang bermain dalam sebuah iklan. Ia tidak pernah terpaksa melakukannya. Bahkan ia berkata tidak merasa capek dalam melakukan kegiatannya itu. Afika senang mendapati dirinya sebagai bintang iklan.

Mengapa Afika Lebih Populer dari Bintang Iklan O*eo Lainnya?

Biskuit Oreo telah mempublikasikan beberapa iklan selama beberapa tahun menancapkan panji pasarnya di Indonesia. Iklannya dibintangi oleh pemeran yang berbeda-beda, namun ada satu benang merah yang menyatukannya: cara makan biskuit melalui ritual khas “…diputer, dijilat, dicelupin.” Iklan-iklan itu selalu ditutup dengan jargon “hanya O*eo”.

Dilihat dari perspektif saya sebagai orang yang awam akan dunia iklan dan komunikasi massa, iklan Oreo Afika menjadi paling populer karena beberapa hal. Pertama, karakter Afika sebagai anak kecil itu sendiri yang sangat kuat. Melihat wajahnya, tentu orang akan langsung suka. Anak kecil memiliki kekuatan dalam merebut simpati orang lain karena kepolosan, kesucian, dan ketidakberdosaan mereka. Anak kecil polos tanpa pamrih kepentingan yang mengganggu kepentingan orang lain. Anak kecil masih bersih dari nama jelek atau track record yang buruk. Anak kecil hanya memiliki mata, yang bila orang menatapnya, akan menimbulkan efek positif dalam jiwa mereka.

Kedua, iklan Oreo Afika adalah satu-satunya iklan yang menyebutkan nama. Menurut saya, nama itu sangat penting dalam rangka membentuk mindset audiens. Mungkin Pembaca Yang Budiman masih ingat sebuah iklan provider seluler yang pemerannya berkata, “Agus, Agus!” pada saat adegan menelpon ke nomer luar negeri. Atau yang juga masih baru-baru ini, iklan produk sosis yang menyertakan jingle “… S[e]m*sh suka makan So Ni#e…”. Kedua iklan itu menyebutkan nama yang mudah melekat dan disukai, terlepas dari otentik tidaknya nama tersebut. Dalam iklan O*eo yang dimaksud, nama Afika sukses merebut hati para audiensnya.

Terakhir, yang menjadi semacam klimaks dalam iklan tersebut ialah jawaban Afika yang polos dan lucu: “…Iyaa“. Ucapan Afika itulah yang melengkapi dialog ampuh yang telah melekat di otak para pemirsa. Bukan berarti dialog seterusnya tidak penting. Malahan, rangkaian dialog yang menyertai membuat pemirsanya berpikir dan kagum akan kehebatan seorang anak yang baru lepas dari usia balita memerankan sebuah iklan.

Terlepas dari statistik penjualan produknya, iklan O*eo sukses menurut pandangan saya. Seperti O*eo yang sukses membuat Afika begitu populer, Afika pun telah berhasil menyebarkan nama O*eo ke khalayak nyata dan maya Indonesia. Meskipun saya mengakui bahwa saya belum pernah membeli dan mengkonsumsi produk biskuit itu sejak iklan O*eo Afika beredar. Maaf ya Pak dan Bu O*eo…

Apa yang akan Anda Lakukan jika Bertemu Afika dalam Waktu Dekat?

Mungkin Para Pembaca Budiman memiliki jawaban tersendiri. Mungkin di antara Anda berencana meminta berfoto bersama Afika. Atau mungkin ada di antara Para Pembaca Budiman yang akan meminta tandatangannya (kalau dia sudah punya tanda tangan sendiri). Namun jika saya yang ditanya demikian, jawaban saya adalah, saya akan memanggil namanya, dan berharap Afika mendengar dan menjawab, “Iyaa!”. Itu sudah sangat cukup melegakan keinginan terpendam saya. 🙂

Pamong Angkat Gelas berarti 95 (Obrolan Rutin di Warung Kopi)

Image: Salvatore Vuono / FreeDigitalPhotos.net

Judi nomer sedang musim di kota saya. Paling tidak itu yang terasa saat saya mampir di beberapa warung kopi di kota saya. Hampir setiap saya singgah ngopi di warung tertentu, obrolan yang terdengar adalah tentang judi nomer. Entah oleh si penjual ataupun para pengunjung warung, nampaknya itulah percakapan yang paling gayeng dan populer.

Ada beberapa istilah yang saya ketahui dari obrolan mereka. BT berarti buntut, yaitu angka terakhir dari empat nomer yang diprediksi bakal keluar. Misal angka yang diprediksi adalah 5427, 7 adalah BT-nya. Colok, itu merujuk pada 2 angka terakhir. Lalu ada istilah kepala, yang artinya (mungkin) adalah 2 angka terdepan dari 4 angka prediksi. Istilah-istilah lainnya adalah nyeket, yang bermakna memprediksi atau menganalisis angka yang akan keluar; mistik; mbledosimpen, duistilah terakhir yang saya belum begitu paham maknanya.

Yang menurut saya unik dan cukup sering terdengar adalah jika para pembeli nomer itu mengaitkan antara mimpi dengan nomer yang keluar. Pernah saya mendengar seorang pengunjung warung bilang bahwa dia memimpikan 2 tangan saling berjabatan. Dari situ dia menyimpulkan bahwa angka yang keluar bisa 2, 5 atau 10. Kok bisa? Mungkin 2 tersirat pada 2 tangan; 5 tersirat pada jumlah jari setiap tangan, dan 10 ditafsirkan dari 5 jari tangan dikalikan 2. Unik memang.

Pernah lagi, di warung yang sama, saya mendengar si pemilik warung mengomentari mimpi dari salah seorang konsumennya. Mimpinya, si konsumen warung itu melihat seorang pamong desa (perangkat desa) sedang mengangkat gelas. Tafsirnya adalah angka 95. Kok bisa? Saya sendiri tidak tahu. Tapi yang pasti kesan saya adalah, unik! 🙂

Saya belum pernah ikut judi, apalagi berjudi nomer. Mudah-mudahan tidak pernah. Saya berharap Pembaca Yang Budiman juga tidak pernah. Meskipun dibilang judi nomer itu menjadi salah satu ‘hiburan’ wong cilik, namun judi nomer, seperti bentuk judi lain, bersifat sangat additif alias membuat ketagihan.

Bicara soal mimpi, mungkin para pengunjung warung tersebut lebih beruntung dari saya. Akhir-akhir ini saya lebih sering bermimpi buruk. Alih-alih menafsirkan, saya lebih pilih untuk melupakan mimpi-mimpi saya itu.

Sedangkan bicara tentang ramalan judi nomer, di dunia maya-pun nampaknya sedang populer. Paling tidak itu yang sedang terjadi pada blog-blog WordPress (Indonesia). Tulisan-tulisan teratasnya banyak didominasi oleh ramalan judi nomer, di samping blog-blog dengan tema otomotif roda dua dan…tema Korea tentu saja! 🙂

POEMS AND SONGS FOR CHILDREN

poems poetry children song indonesia jakarta

Wahyu Kokkang

Love - Life - Laugh

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Satriwan's Blog

Yakin Usaha Sampai Demi Kemajuan

mifka weblog

Sekedar Catatan

obraytech's Blog / Computers

All About Computers,Gadget & Other

NETLABELS NOISES

selected netlabel releases

WALID

Sebaik-baiknya manusia ialah yang memberi bermanfaat bagi sesama...

lombokdihati

DIBALIK KESUNYIAN PELANGAN

The Simple Blog

Berawal dari sesuatu yang tidak mungkin

The Lost Word

Menulislah Walau Hanya Satu Kalimat

ENGLISH LEARNING CENTRE

Sharing and Growing for Better Education

Catatan Arief Mardianto

Pengingat disaat lupa ...

Welcome to my blog

Berbagi itu menyenangkan.

ilmu manajemen

Membantu anda dalam memahami

A Dreamer

It's true that we don't know what we've got until we lose it, but it's also true that we don't know what we've been missing until it arrives.

YoUMovi

Watch and download full movies online

%d blogger menyukai ini: