Widget Kepribadian dari Situs My Personality

Click to view my Personality Profile page

Hasil tes kepribadian indraisme di situs termaksud

Lama tak ngeblog, lebih lama lagi tak posting artikel satupun (artikel-artikel terakhir berupa unggahan tulisan dari file lama yang belum terpostingkan atau mereblog artikel tetangga), saya memutuskan posting artikel tentang widget HTML untuk para pemilik akun wordpress gratisan seperti saya. Widget yang dimaksud adalah widget yang berisi info tipe diri dan inteligensia kita. Info tersebut berguna untuk mengetahui diri kita sendiri secara pribadi. Saya telah mengikuti dan mendapatkan hasil tesnya (lih. gambar) beberapa menit sebelum akhirnya artikel ini terbit.

Lho, apakah berarti saya termasuk orang yang tidak tahu diri? Mungkin, karena kadang saya rasakan itu pada saat-saat tertentu, misal saat ada prasmanan resepsi pernikahan, hehehe… 😀

Karena berisi info pribadi, maka kita perlu mengisi formulir semacam tes kuosioner. Dan karena yang mengadakan tes adalah sebuah situs internet, maka diperlukan sign up jika sebelumnya kita belum punya akun di situs itu. Dan apakah nama situs penyedia tes kepribadian dan inteligensia diri itu? Ehm, mungkin akan lebih praktis jika Pembaca Yang Budiman langsung klik link di bawah ini. Pun, masalah kode widgetnya, saya yakin Pembaca Budiman akan mudah untuk mendapatkannya di situs yang dimaksud. Yang penting ya itu tadi, menyelesaikan tesnya dulu, baru dapatkan kodenya. 🙂 :

Dapatkan badge kepribadian Anda!.

Selamat mencoba lebih mengenali diri Anda…

Iklan

Warung Pak Bakar dan Foto Berpigura

Semenjak foto itu dipajang, saya selalu pergi ke tempat itu sendirian. Saya tidak tahu apakah saya kehilangan teman karena mempertahankan prinsip, atau karena kekuatan misterius yang terpancar dari foto itu. Yang pasti hanya saya sendiri yang masih ngopi di tempat itu, sambil sesekali memandang ke arah sebuah foto ukuran 4 R yang dipajang di samping jam dinding hadiah sebuah bank milik pemerintah.

Setiap minggu malam saya pergi ke warung Pak Bakar demi segelas kopi hitam. Demikian juga dengan teman-teman saya, Haris dan Yudi. Hanya mereka teman yang saya punya di waktu malam.

Pak Bakar menyediakan nasi pecel dan tempe goreng sebagai hidangan andalannya. Kebanyakan pengunjungnya pun mencari dua jenis sajian itu. Ada yang memesan nasi dan tempe, namun ada juga yang hanya berminat pada tempe goreng yang rasanya terkenal khas. Warungnya hanya terbuat dari bambu. Namun tidak jarang ada pembeli bermobil, plat hitam atau merah, yang mampir ke warungnya. Pak Bakar dibantu oleh anak bungsunya. Dia perempuan, remaja, dan cantik. Rambutnya hitam, panjang dan bergelombang. Mirip lirik salah satu lagu dangdut yang dulu terkenal.

Haris mengaku dirinya sebagai penyuka tempe. Tempe goreng Pak Bakar-lah yang menurutnya paling enak. Yudi sering bilang dia suka nasi pecel Pak Bakar. Ada atau tiada tempe tak jadi masalah baginya. Sedangkan saya, tak masalah bagi saya jika Pak Bakar kehabisan semua dagangannya asal jangan kopi hitam. Jelaslah, bukan dalam hal makanan kami kompak dalam selera.

Entah berapa puluh minggu malam kami habiskan di warung Pak Bakar, hingga saat malam itu datang. Tak ada yang berubah dari warung Pak Bakar, selain sebingkai foto yang malam minggu sebelumnya belum terpajang. Terlihat di foto tersebut Pak Bakar bergambar bersama anak bungsunya yang sedang membopong bayi berumur dua tahunan. Di foto itu dia tersenyum manis, dengan rambutnya yang seperti biasa terurai panjang. Jari lentiknya sedang menahan anaknya supaya tetap diam. Bayi itu sangat mirip ibunya. Hanya dia yang tersenyum ke arah kamera.

Semenjak malam itulah saya ngopi tanpa teman. Saya selalu mengajak, tapi mereka selalu enggan dan menolak. Haris  dan Yudi telah pindah ke warung lain, yang nasi pecel dan kopinya tak sebanding dengan punya Pak Bakar.

Ada puluhan warung yang menyediakan kopi di kota kecil ini. Saya tetap memilih warung Pak Bakar. Selama masih tersedia kopi hitam di warung Pak Bakar, rasanya tak masalah jika saya bahkan tak punya teman di waktu malam.

Tulisan Berikutnya

Again, reblogged from mutiarazuhud.wordpress.com

Mutiara Zuhud - Letakkan dunia pada tanganmu dan akhirat pada hatimu

Sebaiknya janganlah membaca kitab yang ditulis oleh ulama korban ghazwul fikri

Sebaiknya janganlah membaca kitab yang ditulis oleh ulama korban hasutan atau korban ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi.

Salah satu contoh penghasutnya adalah perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence yang dikenal oleh ulama jazirah Arab sebagai Laurens Of Arabian. Laurens menyelidiki dimana letak kekuatan umat Islam dan berkesimpulan bahwa kekuatan umat Islam terletak kepada ketaatan dengan mazhab (bermazhab) dan istiqomah mengikuti tharikat-tharikat tasawuf.

Laurens mengupah ulama-ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis buku buku yang menyerang tharikat dan mazhab. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.

Sebagian besar pendidikan agama di wilayah kerajaan dinasti Saudi  dan di  Darul Hadits, Dammaj, Yaman , kurikulumnya tidak mendapatkan pengetahuan tasawuf.

Ulama yang sholeh keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya…

Lihat pos aslinya 4.182 kata lagi

Cerita Satu Malam

Nederlands: Negatief. Markt (pasar malam) in M...

Nederlands: Negatief. Markt (pasar malam) in Malang, Java (Photo credit: Wikipedia)


Kemalaman

Bayu melirik ke arah Mara, lalu kepada tas kresek hitam  besar yang memisahkan kedua kakinya.

“Masih satu kresek. Ayo cari tempat lagi,” kata Bayu.

“Udah jam berapa ini?” timpal Mara setengah putus asa. Alrojinya menunjuk angka 5 dan 9.

“Makanya… Kita mestinya gak duduk-duduk saja di sini,” sahut Bayu.

“Kita gak boleh masih membawanya waktu pulang nanti,” katanya lagi setengah bergumam.

Bayu beranjak. Mara mengikuti dengan enggan.

Keramaian

Orang-orang, remaja atau keluarga, lalu-lalang mengalir mengepung stan-stan para pedagang. Pasar malam depan halaman stadion berstandar nasional itupun semakin ramai dengan dentaman bas dan ketipung dari penampilan live grup orkes musik lokal nan kondang.

“Justin, jangan jauh-jauh dari Mama, Nak…” teriak seorang ibu jawa berambut pirang.

“Justin!” teriak si suami mengamini istrinya. Pedagang di depannya tersenyum. Mungkin geli denga nama yang terdengar asing.

Suami istri itu sedang memborong jadah bakar ketika anak kecil 7 tahun mereka dan mainan Gundamnya mulai berkeliaran menjauhi bosan.

“Pa, Justin mana Pa?” sergah si ibu muda kepada suaminya.

“Justin!” si suami berteriak lagi.

Kelaparan

Thole sedang bermain dengan 3 tutup botol minuman ringan yang ditemukan siang harinya.

“Tolong aku!” gumam Thole menyuarakan tutup botol warna kuning.

“Diam! Pahlawanmu tak akan bisa menolongmu. Hahaha!” geram Thole. Dia sengaja memberatkan suara tutup warna merah yang berperan jadi penjahat.

Tangan kiri Thole terus menggerak-gerakkan tutup merah dan kuning, sedangkan tangan kanannya meliuk-liukkan tutup ketiga yang berwarna hijau.

“Lepaskan dia, manusia jahat!”

Tutup botol warna hijau menghempas tutup yang berwarna merah, kemudian membawa terbang tutup kuning bersamanya. Keduanya saling tersenyum penuh cinta.

Thole teringat kembali dengan rasa laparnya.

Perkenalan

“Akulah Gundam Perkasa!” seloroh Justin. Setelah mengitari hampir seluruh stadion, Justin akhirnya menemukan tempat yang menyenangkan di bagian belakang.

“Kamu main apa?” tanya Justin.

“Pinjam,” pinta Thole. Matanya terpaku pada mainan Gundam itu sejak Justin datang mengambil lagi rasa laparnya.

“Nih,” Justin menyodorkan mainannya.

“Nih juga. Yang ijo Spiderman, yang kuning Yuni, dan ini namanya Bipati. Dia penjahatnya.”

“Spiderman kok ijo dan terbang?” protes Justin.

“Iya. Aku pernah lihat di tas yang dijual di depan!”

Keduanya tertawa.

Perpisahan

“Mara, ternyata belakang sini ada banyak! Ayo cepat!” kata Bayu lega dan gembira. Dia lupa dengan tangan letihnya menenteng tas kresek berisi 25 nasi bungkus. Mara dengan enggan mengikut dari belakang.

“Dik, ini ada nasi bungkus. Bantuin ngasih ke yang lain ya?”

“Iya, Kak!” jawab Thole dan Justin serempak.

Senyum tipis menghiasi wajah Mara. Malam itu nazarnya telah terlunasi.

Menjemput Sahabat

The night life of Bangalore captured from a ro...

Di gang sempit samping kafe Dream Land dua pemuda terkapar. Aji, pemuda pertama terlihat terlentang dengan nafas yang terengah-engah. Linggar, pemuda yang satunya mengamini Aji dengan sikap dan deru nafas lelah yang seirama.

“Hah, kau tambah gesit sekarang,” engah Linggar. Ia meringis menahan sakit di rusuk kirinya yang terkena sodokan Aji.

“Pulang,” ajak Aji mengabaikan pujian lawannya. Ia memegangi bahu kanannya yang kena sabetan tangan Linggar.

“Pulang saja sendiri,” Linggar menafikan ajakan Aji.

“Ayolah, untuk apa kamu masih ikut dia?”

Aji mengatur nafas, lalu melanjutkan, “Lihat tempat ini! Kota ini sudah merubahmu, Gar!”

Linggar tak menyahut. Hanya erangan yang sesekali terdengar. Perlahan ia bangkit dan duduk bersandar dinding belakang kafe. Aji ikut duduk bersandar di tembok seberang.

“Kamu akan bilang bahwa kota ini telah menggerogoti jiwaku sedikit demi sedikit kan? Sampai akhirnya aku tak mengenal diriku sendiri. Gitu? Huh! Cerita klise itu tak akan membuatku pulang ke kampung yang …”

“Karena kamu lebih ingin dikenal sebagai tukang pukul daripada orang gagal,” potong Aji.

“Aku tidak gagal! Orang yang tangguh harus bisa bertahan dari semua bentuk kerasnya hidup.  Dua tahun aku begitu naif sehingga yakin bisa membawa Kakang-ku kembali. Tapi justru dialah yang membukakan mataku pada dunia nyata. Tanpa harus risih dengan suara-suara sumbang, karena di sini semuanya terdiam jika namaku disebutkan!”

Aji berdiri, diikuti Linggar. Aji menarik nafas layaknya akan mengeluarkan jurus pamungkas. Matanya terpejam.

“Itulah yang membedakanmu dengan kakakmu. Apa kamu lupa, Jati kakang-mu dulu berseru di hadapan kita dan teman-teman bahwa ia bosan jadi petani kampung. Kamu tentu ingat isak tangis Yu Fathonah yang cintanya dimentahkannya hanya karena ia tak mau umurnya habis terikat di kampung mengurus keluarga dan sawah.”

Mata kanan Linggar yang tidak lebam menatap Aji. Bibirnya yang berpoles darah kering terkatup.

“Tapi kamu jauh lebih baik, Gar. Kamu ke sini untuk mengajaknya pulang setelah Pak Dalhar tahu kakang-mu jadi preman di kota. Kamu menginjak kota ini dengan niat baik.”

“Niat baik. Dua tahun telah membuatku lupa…”

“Karena itulah aku datang. Karena kamu kakak seperguruanku. Sahabatku.”

Belum sempat Linggar menjawab, Jati muncul dengan dua puluh lima anak buah di belakangnya.

Telunjuk Jati mengisyaratkan sesuatu kepada bawahannya.

“Lari!” seru Linggar kepada Aji.

Dengan susah payah keduanya lari menjauhi gerombolan itu. Aji sempat menatap Jati yang sengaja tinggal memandang keduanya. Aji pernah melihat tatapan seperti itu pada mata kucing hutan yang mengincar mangsanya. Bukan lagi tatapan seorang guru kepada murid-muridnya, yang Aji dulu sering menjumpainya.

POEMS AND SONGS FOR CHILDREN

poems poetry children song indonesia jakarta

Wahyu Kokkang

Love - Life - Laugh

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Kabar tentang Dunia Islam

Menyediakan Informasi yang Tepat agar Ummat Tidak Tersesat oleh Berita orang Fasiq/Kafir

Satriwan's Blog

Yakin Usaha Sampai Demi Kemajuan

mifka weblog

Sekedar Catatan

obraytech's Blog / Computers

All About Computers,Gadget & Other

NETLABELS NOISES

selected netlabel releases

WALID

Sebaik-baiknya manusia ialah yang memberi bermanfaat bagi sesama...

lombokdihati

DIBALIK KESUNYIAN PELANGAN

The Simple Blog

Berawal dari sesuatu yang tidak mungkin

The Lost Word

Menulislah Walau Hanya Satu Kalimat

ENGLISH LEARNING CENTRE

Sharing and Growing for Better Education

Catatan Arief Mardianto

Pengingat disaat lupa ...

Welcome to my blog

Berbagi itu menyenangkan.

ilmu manajemen

Membantu anda dalam memahami

A Dreamer

It's true that we don't know what we've got until we lose it, but it's also true that we don't know what we've been missing until it arrives.

YoUMovi

Watch and download full movies online

%d blogger menyukai ini: